Antara KLB Deli Serdang, kebrutalan dalam demokrasi, dan isu upaya melejitkan elektabilitas

- 15 Maret 2021, 16:35 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang dinilai ilegal di Jakarta, Jumat (5/3/2021). AHY mengecam KLB yang berlangsung di Deli Serdang, Sumatera Utara itu karena inkonstitusional serta meminta Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) untuk tidak mengesahkan hasil KLB yang telah memutuskan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. ANTARA FOTO/Aditya
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang dinilai ilegal di Jakarta, Jumat (5/3/2021). AHY mengecam KLB yang berlangsung di Deli Serdang, Sumatera Utara itu karena inkonstitusional serta meminta Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) untuk tidak mengesahkan hasil KLB yang telah memutuskan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. ANTARA FOTO/Aditya /Antara Foto/Aditya Pradana Putra/

WartaBulukumba - Tak ubahnya jalanan atau pemukiman manusia yang ramai dan riuh maka demokrasi pun seperti itu. Kadang muncul para begal yang melakukan aksinya secara brutal. 

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra menegaskan bahwa demokrasi Indonesia sedang genting. Telah terjadi sebentuk kebrutalan dalam demokrasi.

Ia menyebut secara eksplisit bahwa demokrasi di Indonesia sedang dirusak oleh perilaku segerombolan pelaku Gerakan Pengambilalihan Ketua Umum Partai Demokrat (GPK-PD). Gerakan itu, menurut dia, bersekutu dengan lingkar kekuasaan.

Baca Juga: Isu amandemen UUD 1945 sedang menggelinding, mengarah ke 'tiga periode'

"Lalu, masih ada saja yang berpikir ini drama politik?" ujarnya saat dihubungi Pikiran-Rakyat.com, Senin, 15 Maret 2021.

Saat ini sedang mencuat di ruang publik pelbagai analisa beberapa pengamat di seputar KLB Deli Serdang yang juga disebut-sebut sebagai sebuah kudeta di tubuh Partai Demokrat.

Kudeta tersebut dianggap sebagai sebuah srategi melejitkan elektabilitas partai. Analisa lainnya juga menyimpulkannya sebagai upaya menggenjot elektabilitas sosok Agus Harimurti Hudhoyono (AHY).

Baca Juga: Andi Utta lakukan evaluasi, Kota Bulukumba belum merdeka dari invasi sampah dan 'taman fauna'

Herzaky menanggapi tudingan tersebut denga mengutip salah satu  pesan Bung Karno.

"Memang benar kata Bung Karno. Perjuangan kita memang lebih berat, karena bakal melawan bangsa kita sendiri," kata Herzaky Mahendra Putra.

Jalan menuju penegakan demokrasi tidak mudah. Banyak aral melintang di tengah jalan itu. Meretas jalan lempang dan lapang untuk melihat masyarakat Indonesia berada di altar adil dan makmur sarat dengan cobaan.

Baca Juga: Programming dan coding, dua 'kata kerja' penting di era digital

"Saat kita menghadapi tontonan terang benderang, perilaku penyalahgunaan kekuasaan yang bisa meluluhlantakkan demokrasi, yang ditunjukkan oleh oknum kekuasaan bersama antek-anteknya, mantan kader kami, melalui GPK-PD, tapi masih ada saja yang berpendapat ini drama politik untuk menaikkan elektabilitas dan simpati publik," urainya.

Situasi saat ini, ungkapnya, sedang tidak normal-normal saja.

"Untuk merasa, seperti yang didengung-dengungkan Ki Hajar Dewantara, apakah situasi saat ini memang normal-normal saja?" kata dia.

Baca Juga: Kelompok petani alami di desa ini membuat sendiri mikroba dan nutrisi herbal untuk tanaman

Kehadiran anasir-anasir yang bukan merupakan pemilik suara yang sah, bertindak tidak sah dengan memilih sosok yang mereka sebut ketua umum baru yang datang dari lingkar kekuasaan, lalu mendemisionerkan kepengurusan sebelumnya.

"Lalu, tanpa izin dari pihak berwenang, di tengah musim covid-19, tetap bisa mengadakan kegiatan dengan peserta ratusan orang, tanpa dibubarkan oleh pihak berwenang?" tuturnya.***

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Pikiran-Rakyat.com dalam artikel berjudul "Kudeta Demokrat Disebut Strategi Menaikkan Elektabilitas? Kubu AHY Buka Suara".

Editor: Alfian Nawawi

Sumber: Pikiran Rakyat


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah