Film 'Vina: Sebelum 7 Hari': Kritik keras melalui karya sinematografi terhadap hukum di Indonesia

- 12 Mei 2024, 12:54 WIB
Poster film 'Vina: Sebelum 7 Hari'
Poster film 'Vina: Sebelum 7 Hari' /Dee Company

WartaBulukumba.Com - Dalam kisah sinema "Vina: Sebelum 7 Hari," tragedi kematian Vina tidak hanya dipandang sebagai narasi dramatis, tetapi juga sebagai cerminan keadaan sistem hukum dan keadilan di Indonesia.

Kisah kelam tentang kematian Vina yang menggegerkan masyarakat pada tahun 2016 mewujud dalam bentuk karya sinema yang memukau.

Anggy Umbara, melalui film ini, mengajak penonton untuk merenungkan kedalaman ketidakadilan yang masih merajalela di tengah-tengah masyarakat.

Dalam wawancara sesi preview film tersebut, Anggy Umbara menyoroti kelemahan sistem hukum yang masih merunduk di bawah beban ketidakpastian.

Baca Juga: Sinopsis 'Vina: Sebelum 7 Hari': Kisah nyata arwah korban pembunuhan di Cirebon mengungkap kebenaran

Hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah

 

Di balik gemerlapnya panggung sinema, Anggy Umbara menyampaikan pesan tentang keadilan yang terengah-engah di bawah teriknya matahari hukum di negeri ini.

"Dalam rimba hukum Indonesia, keadilan masih sering terkubur dalam ketidakpastian. Lewat alur visual ini, mari kita menghadirkan kesadaran kolektif. Marilah kita berhenti sejenak, sebelum tragedi semisal Vina kembali terulang. Melalui karya ini, kita ingin menggugah kesadaran, terutama kepada penguasa dan penegak hukum, agar bersama-sama menegakkan keadilan," ujar Anggy Umbara dalam sesi preview film "Vina: Sebelum 7 Hari".

Dengan menggambarkan karakteristik hukum yang tumpul di puncak, namun tajam di bawah, ia mengajak kita untuk bersama-sama membangun kesadaran akan urgensi penegakan keadilan yang sejati.

Baca Juga: Film 'Vina: Sebelum 7 Hari' tayang perdana mulai 8 Mei

Halaman:

Editor: Nurfathana S


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah