Menelusuri Ammatoa di Bulukumba dari pojok sejarah dan geografi: Perbedaan mendasar dengan Kajang luar

- 30 Mei 2024, 23:00 WIB
Ilustrasi generasi muda Bulukumba di kawasan adat Ammatoa Kajang - Menelusuri Kajang dari pojok sejarah
Ilustrasi generasi muda Bulukumba di kawasan adat Ammatoa Kajang - Menelusuri Kajang dari pojok sejarah /Instagram.com/@kareba.rikajang

WartaBulukumba - Di kedalaman hutan rimbun Bulukumba, tersembunyi sebuah dunia yang menjaga nyala api tradisi, Komunitas Adat Ammatoa Kajang. Di bawah kanopi pepohonan yang seakan berbicara dalam bahasa rahasia, para penjaga hutan ini berjalan dengan penuh kesadaran, menjaga harmoni antara manusia dan alam. Hutan bagi mereka bukan sekadar himpunan pohon, tetapi sebuah entitas hidup yang harus dihormati dan dilindungi.

Kearifan lokal mereka terjalin dalam setiap ritual dan keputusan, mencerminkan hubungan sakral dengan tanah leluhur. Dalam kesederhanaan pakaian hitam dan tuturan dialek  konjo, mereka menyampaikan pesan-pesan purba tentang keberlanjutan dan keseimbangan.

Sembari berjalan di jalur yang sama ditempuh oleh nenek moyang mereka, komunitas ini melawan arus modernitas yang kerap mengikis identitas.

Baca Juga: Bertandang ke rumah filosofi Ammatoa Kajang di Bulukumba

Sejarah hidup dalam setiap daun yang berbisik, di tengah belantara sejarah, Ammatoa Kajang adalah mercusuar yang menuntun kita untuk melihat kembali nilai-nilai.

Komunitas adat Ammatoa di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, adalah juga tempat belajar bagaimana memberikan perlakuan istimewa terhadap lingkungan, budaya, dan seni.

Jika jauh melintasi waktu ke masa lalu dan mampir ke zaman kolonial Belanda, sejarah mencatat Kajang merupakan salah satu distrik dari 14 distrik. Masa itu Kajang dikendalikan oleh kolonial Belanda dalam bentuk Onderafdeling Bulukumba.

Baca Juga: Mengenal pola hidup unik Ammatoa Kajang di Kabupaten Bulukumba Sulsel

Sistem pemerintahan seperti ini, berlangsung sampai masa penyerahan kedaulatan. Setelah penyerahan kedaulatan istilah Onderafdeling berubah menjadi Kewedanan.

Halaman:

Editor: Alfian Nawawi


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah