Tak ada lagi tempat perlindungan rakyat Palestina setelah Rafah, tak ada pilihan bagi Hamas selain bertempur

- 7 Juni 2024, 23:32 WIB
Seorang wanita duduk bersama seorang anak, saat mereka melarikan diri karena operasi militer Zionist di Rafah pada Selasa 28 Mei 2024.
Seorang wanita duduk bersama seorang anak, saat mereka melarikan diri karena operasi militer Zionist di Rafah pada Selasa 28 Mei 2024. /Reuters/Hatem Khaled/

WartaBulukumba.Com - Gambar tenda-tenda pengungsi berwarna putih, tersusun membentuk tulisan "All Eyes on Rafah", telah menjelma menjadi sebuah pesan yang membelah lautan maya. Gambar itu bukanlah sebuah foto nyata, melainkan sebuah kreasi dari kecerdasan buatan yang meresapi setiap piksel dengan rasa pedih dan harap.

Dibuat oleh seorang pengguna Instagram dari Malaysia, gambar itu menembus batas dunia maya dan menyentuh hati lebih dari 50 juta jiwa yang membagikannya dengan semangat yang menyala-nyala.

Gambar itu kini telah melampaui batas virtual dan menjadi simbol nyata dari solidaritas global. Ia mengingatkan milyaran manusia bahwa di balik setiap piksel ada kisah yang menunggu untuk diceritakan, dan di balik setiap kampanye ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Satu hal yang pasti, hari ini tak ada lagi tempat perlindungan bagi rakyat Palestina setelah Rafah. Sementara itu satu-satunya pilihan bagi semua kelompok perlawanan Palestina, termasuk Hamas, adalah melawan dan 'mengeliminasi' sebanyak-banyaknya serdadu dan kendaraan perang Zionist.

Baca Juga: Ketua IFRC memohon akses dibuka ke Gaza untuk bantuan kemanusiaan

Biden yakin Netanyahu akan mendengar kekhawatirannya

Dalam sebuah wawancara dengan ABC News seperti dilansir Anadolu pada Kamis, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengungkapkan keyakinannya bahwa Perdana Menteri Israel penjajah Benjamin Netanyahu telah mendengar kekhawatirannya terkait serangan Tel Aviv ke Kota Rafah, Jalur Gaza bagian selatan.

"Saya rasa dia mendengarkan saya," ujar Biden.

Biden melanjutkan, "Mereka berencana menyerbu Rafah dengan kekuatan penuh—menginvasi seluruh kota, menguasainya, bergerak tanpa henti. Namun, sampai saat ini, mereka belum melakukannya." Ucapannya menggantung di udara, menggambarkan ketegangan yang mencekam.

Sejauh ini, lebih 36.600 warga Palestina tewas dan 83.000 orang lainnya luka-luka, menurut otoritas kesehatan setempat.

Halaman:

Editor: Alfian Nawawi


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah